Berita Geografi Terbaru Hari Ini

Pengertian Dan Makna Geografi Secara Umum

Bintang Maharaksasa Biru Baru Saja di Temukan

Bintang Maharaksasa Biru Baru Saja di Temukan – Bintang purba terjauh berhasil ditemukan oleh para astronom! Bintang maharaksasa biru panas yang ditemukan para astronom ini hidup sementara alam semesta baru berusia 4,4 miliar tahun setelah Dentuman Besar.

Bintang Maharaksasa Biru Baru Saja di Temukan

Jika kebanyakan arkeolog menggali dan melacak tulang dinosaurus atau menelusuri kuburan kuno, untuk meneliti peristiwa kehidupan di Bumi, para astronom juga punyai kemiripan dengan arkeolog. Dua-duanya meneliti peninggalan purba untuk mampu paham masa lalu.

Bedanya, astronom tidak perlu menggali ke didalam Bumi untuk menelusuri masa lalu. Yang dikerjakan para astronom adalah mengamati objek jauh di alam semesta. Ketika kami lihat objek langit malam, sebetulnya kami tengah lihat ke masa lalu.

Tidak ada apa-pun di alam semesta yang mampu melintas dengan cepat dan instan. Tidak juga cahaya. Cahaya dari bintang jauh dan galaksi perlu sementara miliaran tahun untuk mampu hingga di Bumi. Jadi, ketika kami mengamati objek langit, yang dicermati adalah keadaan objek selanjutnya lebih dari satu tahun atau bahkan miliaran tahun selanjutnya ketika sinar mengawali perjalanannya.

Bintang dengan rekor terjauh yang berhasil dicermati berada terhadap jarak 9 miliar tahun cahaya. Itu artinya, kami lihat keadaan bintang selanjutnya sementara 9 miliar tahun lalu! Ketika itu, alam semesta masih terlalu muda. Hanya sepertiga usianya sekarang, atau sekitar 4,4 miliar tahun. Bintang maharaksasa biru yang diberi kode Lensed Star 1 a.k.a LS 1 ditemukan di gugus galaksi MACS J1149-2223. Bintang LS1 merupakan bintang maharaksasa biru yang panas dengan temperatur pada 11.000º C – 14.000º C.

Efek Lensa Gravitasi

Untuk mampu lihat dan mengamati bintang tunggal di alam semesta kebanyakan tidak mudah. Tapi bukan tidak mungkin. Dengan sedikit keberuntungan, sinar bintang purba ini mampu mengalami penguatan/perbesaran 2.000 kali agar mampu dicermati oleh teleskop Hubble.

Gaya tarik yang kuat dari sebuah objek masif mampu membelokkan sinar dari bintang yang ada di belakang mereka. Jadi si objek masif ini berguna layaknya kaca pembesar yang memperkuat sinar bintang latar belakang agar bintang selanjutnya mampu diamati.

Kala itu, April 2016, para astronom hendak mengamati supernova Refsdal, ledakan bintang yang berhasil diketahui keberadaannya dari pelensaan gravitasi. Ternyata, para astronom justru lihat ada sumber sinar terang lain yang terlihat terhadap galaksi yang jadi rumah supernova Refsdal. Rupanya, sinar bintang jauh itu mengalami penguatan agar mampu dicermati oleh teleskop Hubble.

Yang menarik, sinar bintang purba yang dicermati para astronom diperbesar oleh dua objek. Yang pertama oleh gugus galaksi raksasa dan objek yang ke dua adalah objek misterius 3 kali massa Matahari di gugus galaksi tersebut. Pelensaan ke dua oleh objek masif kompak ini dikenal sebagai lensa mikro gravitasi.

Penemuan LS1 punyai makna yang penting. Efek lensa mikro gravitasi kebanyakan disebabkan oleh bintang neutron ataupun lubang hitam yang kompak. Kedua objek kompak ini terhadap kebanyakan tidak mampu terdeteksi dengan mudah. Ketika objek kompak ini membuat terjadinya Para astronom juga mampu mempelajari struktur gugus galaksi, bintang neutron, lubang hitam, komposisi alam semesta, maupun keberadaan materi gelap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *