Berita Geografi Terbaru Hari Ini

Pengertian Dan Makna Geografi Secara Umum

Pengetahuan Tentang Geografi

Siang itu, cuaca sedemikian itu panas. Cahaya mentari terasa amat, sampai kita butuh memejamkan mata dikala memandang pergi.

Bos hawa I Baginda Ngurah Rai di Denpasar, Bali terkini berakhir berbenah. Sinar mentari yang masuk lewat koridor serta kaca jendela seakan menerangkan kilap penyempuraan yang menyantap bayaran lebih dari 3 triliun rupiah.( Baca pula berita penyempuraan lapangan terbang I Baginda Ngurah Rai di mari).

Sambil menunggu penerbangan buntut ke Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, aku melayangkan pandang wajah terkini lapangan terbang global itu. Tidak hanya membuktikan kemegahannya, gedung terkini lapangan terbang memanglah tertuju buat melayani turis sampai 25 juta orang per tahun. Masing- masing sudutnya lalu dipercantik. Terdapat yang dihiasi dengan buatan coretan, terdapat pula yang dipasangi layang- layang khas Bali( Ini nampak pada bagian kepergian dalam negeri).

Pesawat tipe ATR72 seri 600 kepunyaan kongsi penerbangan Wings Air yang bawa ekspedisi hawa mengarah Ende di Pulau Flores.( Bayu Dwi Mardana)

Sehabis berkelana lapangan terbang hawa, durasi merambah pesawat yang hendak bawa aku ke Ende datang. Aku hendak memakai pelayanan Wings Air, dari Lion Group, yang melaksanakan pesawat tipe ATR72 seri 600. Pesawat berbaling- baling ini rencananya hendak melambung di ketinggian dekat 14. 000 kaki.

” Penerbangan kita mengarah Labuan Bajo hendak ditempuh sepanjang satu jam 4 puluh menit,” pramugari melaporkan konsep ekspedisi hawa siang yang amat itu. Tidak berapa lama, pesawat baling- baling itu terbang.

Mata aku terasa diberi bobot berat. Aku semantap daya menahan kantuk. Maklum, penerbangan awal aku dari Jakarta mengarah Denpasar ditempuh dengan pesawat awal. Jadi, bersiap dari tempat bermukim saat sebelum dinihari.

Hampir tertidur, seketika mata aku terbelalak. Pesawat yang membidik ke timur mulai melewati langit Bali, yang menyuguhkan lanskap istimewa: jalur tol atas laut, tutupan mangrove, bengawan, pantai yang padat, area terumbu, sampai puncak gunung api nan gagah.( Baca pula kontroversi pertanyaan jalur tol Bali lewat tautan ini)

Berkas awan putih belum lagi banyak. Akhirnya, aku dengan gampang menjepretkan kamera Samsung NX300 dengan lensa 18– 55 milimeter. Kamera kantong ini bisa jadi harapan para pejalan. Enteng serta kuat. Aku juga memilah guna A( Aperture) serta pengaturan fokus otomatis.( Baca amatan kamera Samsung NX300 lewat tautan ini)

Sehabis melewati tol laut, pemandangan Bali bertukar. Pantai dengan pasir putih, diselingi area kawasan tinggal yang memadat, kontur pegunungan terus menjadi nyata sampai Pucuk Gunung Agung yang jerojol ke langit. Bongkahan awan putih menaikkan bagus lanskap gunung api ini.( Sangat asian kita hidup di area Cincin Api, cerita ini baca berikutnya di mari).

Pucuk Gunung Agung melatis ke langit. Pendakian gunung ini jadi salah satu tujuan para pemanjat serta pejalan di Indonesia.( Bayu Dwi Mardana)

Memandang kontur Gunung Agung, aku cuma bisa berbicara, mengenang era pendakian gunung pada tahun 1997. Kala itu, aku tersengal- sengal, karena berburu puncaknya yang eksentrik. Warnanya, kontur itu terjal serta langsung menghujam ke area pantai, yang berbataskan air laut. Nah, pertanyaannya, apakah aku sedang mampu mengulangi pendakian asik itu pada era saat ini?( Terpikat menemani aku menaiki kembali gunung bersih itu, Kawan?)

Bebas dari Bali, pesawat aku melewati Antara Cabai. Ingatan aku kembali ke tahun 1996. Kala itu, aku bersama 2 kawan kampus berencana menaiki titik paling tinggi ketiga di Indonesia: Rinjani. Gunung api paling tinggi kedua ini terdapat di Pulau Cabai.

Berkantong mahasiswa( yang telah tentu dapat diduga isinya nama lain cekak!), kita menjalani ekspedisi heroik dari Bogor, Jawa Barat. Menumpang sepur ekonomi sampai Surabaya, bersambung sepur arah timur mengarah Banyuwangi, serta lanjut lalu dengan bis ke Denpasar. Dari sana, kita memilah bis ke Mataram, Cabai. Nah, dalam ekspedisi itu, kita wajib melewati Antara Cabai dengan kapal penyeberangan sepanjang 6 jam. Jika cuaca lagi kurang baik, gelombang antara dapat buat kita mabuk!

Jika antara telah dilintasi, pasti pemandangan berikutnya( serta yang ditunggu- tunggu) merupakan sang gunung gagah, Rinjani. Yeah. Aku yang nyaris melupakan panorama alam ini langsung berbinar. Samsung NX300 lekas melegakan ambisi fotografi aku. Area pucuk serta beberapa lekuk kontur sang gunung yang khas itu nampak nyata. Pucuk yang sempat 2 kali aku datangi itu saat ini aku amati dari hawa, dengan nyata. Wow!

Cabai terlampaui. Pelajaran geografi selanjutnya Pulau Sumbawa.

Apa yang menarik dengan kontur Sumbawa?

Pucuk Gunung Tambora yang legendaris. Sayangnya, pucuk itu terselubung bongkahan awan dalam ekspedisi hawa Denpasar- Labuan Bajo.( Bayu Dwi Mardana)

Ah, pasti saja. Gunung Tambora yang membuat gempar bumi dengan letusannya yang maha hebat jadi simbol sangat ditunggu buat aku abadikan.( Cerita mengenai dentuman Tambora serta Guncangan hebat mengguncang Sumbawa pada minggu kedua April 1815 bisa dibaca di mari).

Pada 1997, aku berupaya menaiki Tambora sampai puncaknya. Ekspedisi yang berasal dari Dusun Pancasila, di salah satu ujung Sumbawa itu membagikan ingatan bernilai. Mulai dari teman terkini, pengalaman terkini, sampai catatan pucuk gunung yang sukses didaki.

Yang aku sesali, dikala melambung melintasinya, area pucuk Tambora tidak amat nampak dengan nyata. Bongkahan awan menutupinya. Gambar yang terdapat di mari, rasanya tidak sangat layak aku banggakan. Namun, tidak terdapat salahnya aku sebarkan, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *