Berita Geografi Terbaru Hari Ini

Pengertian Dan Makna Geografi Secara Umum

 

Menjaga Alam Agar Bersahabat Dengan ManusiaPagi menjelang di lereng Gunung Welirang. Muhlis berlangsung menyusuri jalur setapak yang membelah hutan. Dia memanggul cangkul dan mempunyai lebih dari satu bibit pohon buah-buahan.

Setelah memintasi rerumputan yang basah, lantas lelaki itu berhenti sejenak untuk melacak lahan untuk menanam bibit pohon tadi. Dia mulai mencangkul, terhubung pelindung tanaman, lantas menanamnya. Terakhir, ia menandainya tanaman itu bersama bambu.

Muhlis adalah lelaki sederhana. Dia tinggal bersama keluarganya di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Minatnya perihal pelestarian tumbuh sejak ia ikuti kegiatan kepanduan pada awal 1990-an.

Dua dekade silam, hutan kawasan penyangga ini mengalami kerusakan akibat penjarahan besar-besaran. Saat itu tidak memandang amat jauh ke luar kawasan, melainkan fokus pada kawasan di kurang lebih desanya.

Terdapat tujuh mata air yang menghidupi warga Claket: Gunung kejen, genitri, Galbabatan, Kencur, Gedhang, Panceng, dan Cemara. Penebangan pohon tak terselesaikan itu berdampak pada menyusutnya debit sumber mata air.

Hatinya tergerak untuk menyelamatkan hutan bersama menanam pohon. Ajakan kepada tetangganya untuk menanam pohon sempat ditertawakan sebab menurut mereka masalah hutan adalah masalah Perhutani, bukan warga. “Mereka tidak mengetahui apabila ada kerusakan hutan yang kena pengaruh segera adalah kami sendiri atau warga yang di sekitarnya,” ujarnya. “Untuk itu kami coba mengajak masyarakat untuk melestarikan hutan ini demi keberlanjutan kehidupan kami dan anak cucu kami nanti.”

Kendati banyak rintangan, Muhlis tetap melanjutkan misinya. “Saya mengajak warga desa untuk ikut melestarikan mata air di bawah desa kami, lebih-lebih Sumber Djoebel,” ujarnya. Kemudian dia melanjutkan, “Karena aksesnya untuk warga di bawah kami yang kekurangan air di kawasan Mojokerto dan Surabaya.”

Gunung Welirang noleh dikata tidak benar satu tandon airnya Jawa Timur. Sumber Djoebel, yang berada di bawah Desa Claket, adalah tidak benar satu mata air yang tetap pancarkan tirta kehidupannya untuk manusia. Artinya, kawasan Claket jadi tidak benar satu bagian catchment daerah atau daerah tangkapan sumber air warisan leluhur itu.

Pada 1927, Pemerintah Hindia Belanda membangun megaproyek penyediaan air bersih berasal dari Sumber Djoebel di ketinggian kurang lebih 800 mtr. di atas permukaan laut untuk kawasan hilir hingga pesisir, yakni Mojokerto dan Surabaya. Peresmian infrastruktur ini digelar pada Desember 1929. Sampai hari ini, bangunan-bangunan air dan sistem pipa yang membentang selama 160 kilometer itu masih dimanfaatkan oleh PDAM untuk distribusi air.

“Kami telah banyak sekali menanam pohon di catchment area,” kata Muhlis, “tetapi dampaknya tidak segera pada sumber mata air di bawah.”

Dia bersama warga desanya coba berinovasi. Mereka mengakibatkan sebuah konsep program sumur resapan, yang pas itu bebarengan bersama program Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH) yang didukung Coca-cola Foundation Indonesia pada 2016.

Muhlis mengenang, program sumur resapan ini diresmikan bersama air yang berasal berasal dari lima mata air sakral, terhitung Jalatunda yang telah mengalir sejak sebelum saat zaman Majapahit. Program ini telah bergulir dan telah mencetak kurang lebih 350 sumur resapan—150 unit di Perhutani Claket dan 200 unit di Desa Claket. Muhlis menyebutnya dengan, “Panen air hujan bersama teknologi sumur resapan.”

“Sumur resapan yang kami bangun itu tidak serta merta di terima masyarakat,” ucap Muhlis bersama getir. “Masyarakat menertawakan kami. Banyak masyarakat yang menolak. Apa itu sumur resapan, gunanya untuk apa, dan manfaatnya untuk siapa?”

Kendati banyak dicibir, Muhlis tetap jalankan penyuluhan-penyuluhan ke warga. Sedikit demi sedikit warga tertarik untuk membangunya sebab pada akhirnya sumur-sumur resapan itu memberikan manfaat sosial segera kepada warga.

Permukiman Desa Claket dibangun ikuti kontur tanah. Terdapat permukiman yang berada di atas dan di bawah. Ketika hujan deras, air hujan lebih-lebih hingga menerjang masuk ke rumah warga yang berada di bawah.

Akibatnya, warga yang rumahnya berada di bawah kerap berseteru bersama warga yang berada di atas. Namun, sesudah dibangun sumur-sumur resapan, air hujan mengalir memasuki sumur-sumur resapan itu agar kurangi air yang terlimpas ke permukiman bawah. “limpasan air yang berada di permukaan tanah ini telah menyusut jauh,” kata Muhlis bersama bangga, “bisa masuk ke sumur resapan, agar pas ini telah tidak ada lagi percekcokan antartetangga.”

Di samping perkara sosial yang terselesaikan, ada sederet manfaat yang dirasakan warga. Lantaran air hujan terlimpas menuju sumur resapan, jalur tidak lekas rusak, longsor berkurang, kawasan yang awalannya tergenangan kini tidak lagi.

IUWASH dan Cocacola Foundation Indonesia menggulirkan program sumur resapan pada periode 2015-2016, yang didukung terhitung oleh PDAM Kabupaten Mojokerto. Program itu tampaknya membuahkan hasil yang penting dalam pelestarian sumber air. “Sebelumnya debit air 18.4 liter per detik,” kata Fayakun Hidayat selaku Direktur PDAM Kabupaten Mojokerto. “Setelah program—terakhir sebelum saat musim kemarau panjang—kurang lebih sanggup capai 70 liter per detik. Di musim kemarau tahun ini turun jadi kurang lebih 50 mtr. per detik.”

Salah satu permasalahan, bisa saja untuk seluruh PDAM Indonesia, saat ini ini adalah ketersediaan air baku. “Kita, bersama terdapatnya sumur resapan, berkomitmen bahwa ini harus kami pelihara, jangan hingga tersumbat,” ujar Fayakun. Dia memberikan bahwa pada 2015 jumlah pelanggan PDAM Kabupaten Mojokerto masih kurang lebih 17.000. Namun, Sekarang kantornya sanggup melayani hingga 28.000 pelanggan. “Ya itu sebab sumur resapan,” jelasnya. Namun, tak sekedar itu terhitung sebab upayanya dalam “pembersihaan sumber dan ikuti kearifan lokal juga.”

Indonesia perlu pejuang-pejuang lingkungan seperti Muhlis. Apa yang sebenarnya mendorong Muhlis tanpa pamrih mengupayakan untuk kelestarian sumber-sumber air di kurang lebih desanya?

“Yang berikan motivasi kepada saya untuk berbuat bagi pada lingkungan, yakni pas saya singgah ke tidak benar satu guru mengaji saya,” kata Muhlis. “Beliau bicara kepada saya, ‘“di mana bumi dipijak, itu adalah Bumi Allah. Dan, kamu sebagai khalifah harus jadi khalifah yang baik.”’ Muhlis melanjutkan perkataan guru mengajinya, “Karena pas kamu berbuat baik, menanam pohon, mengakibatkan sumur resapan, apa-pun itu yang isinya demi pelestarian lingkungan, maka itulah amal jariyah yang akan kamu bawa dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Perkara yang lebih penting lagi, bagaimana warga mengetahui perilakunya untuk mengembalikan air hujan itu ke tanah agar tambah besar sumber mata air di bawah permukiman mereka, lebih-lebih Sumber Djoebel. Mata air ini amat penting bagi kehidupan di Mojokerto hingga Surabaya. “Sedikit apa pun yang kami jalankan untuk kegiatan pelestarian lingkungan,” kata Muhlis, “sangat besar dampaknya pada masyarakat yang ada di bawah.”

Sekitar 60 kilometer di bawah Sumber Djoebel, kesyahduan lereng Welirang beralih jadi hiruk pikuk gelumat kota. Surabaya, tidak benar satu kota pesisir yang tetap dahaga. Rata-rata mengkonsumsi air per orang capai 190 liter per hari di Surabaya, sedang kebanyakan nasional kurang lebih 120 liter per hari.

Permukiman yang kian padat mengakibatkan warga kota ini tak kuasa meraih air bersih berasal dari tanah mereka sendiri. Perkara air bersih telah jadi bagian kehidupan warga di sepetak Kampung Joyoboyo Belakang, Wonokromo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *